Sunday, August 25News and Features

Abaikan Background Pengembang, Begini Nasib Pembeli Apartemen

JAKARTA – Shantiwati seorang pembeli apartemen di kawasan Pulomas terpaksa harus membatalkan booking fee yang sudah dibayarkan untuk tiga unit apartemen. Awalnya pengembang apartemen tersebut menolak pembatalan tersebut. Namun, ibu dua anak ini bersikukuh lantaran pengembang ingkar terhadap jadwal pembangunan apartemen itu.

Setelah bernegosiasi sekian lama, akhirnya dicapai kesepakatan. Wati hanya membeli satu unit saja, sementara dua unit lainnya dibatalkan dan dana yang sudah dibayarkan kepada pengembang ditarik kembali. Ia kecewa karena dana yang dibenamkan di apartemen itu bukanlah dana dari bank. Dengan molornya pembangunan apartemen itu, dananya pun mengendap, nihil.

“Saya memang teledor karena tidak mengecek dengan baik latar belakang pengembangnya. Padahal sudah berkali-kali saya kontak ke marketingnya, datang ke kantor menanyakan kapan apartemen itu mulai dibangun, jawabannya mengambang terus. Terpaksa saya somasi, baru mereka merespon,” ungkapnya mengenang peristiwa beberapa tahun silam itu.

Apa yang dialami Wati ini semestinya tidak terjadi pada konsumen properti apabila sebelum memutuskan membeli, lebih dahulu mengecek secara detail bagaimana track record pengembang tersebut. Menurut Chairman Center for Urban Development Studies (CUDES), Ferdinand Lamak, penting bagi konsumen untuk mengenal dengan baik latar belakang pengembang.

“Coba cek di lapangan, ada banyak konsumen properti yang dirugikan pengembang karena unit apartemen yang sudah mereka bayarkan, entah itu sebatas DP atau sejumlah cicilan, proyeknya mangkrak bertahun-tahun dan lagi-lagi konsumen jadi korban jika tidak mengambil langkah-langkah hukum sebagaimana dilakukan oleh konsumen diatas,” ungkapnya.

Menurut lembaga ini, saat ini properti di Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari tekanan. Namun recovery tinggal menunggu waktu dan ketika periode itu tiba, pemerintah perlu memberikan proteksi dan perlindungan yang maksimal bagi konsumen properti.

“Lihat sendiri, sejumlah proyek yang mulai dipasarkan pada periode 2013-2014 sebelum properti slow down, aktifitas pemasaran dengan seabrek paket promo berhasil menarik ratusan konsumen. Begitu masuk tahun 2014-2015, properti tertekan dan pembangunan pun tidak berlanjut karena pengembang kekurangan modal di satu sisi sementara penjualan pun anjlok. Banyak sekali proyek yang mangkrak,” ujar Lamak.

Selain mengingatkan konsumen agar berhati-hati memilih produk properti, khususnya apartemen, jika tidak mengenal dengan baik siapa pengembangnya, ia juga mendorong pemerintah untuk lebih serius memperhatikan nasib konsumen yang dirugikan.

“Jika ini tidak diperhatikan, secara jangka panjang kepercayaan konsumen terhadap properti sebagai sebuah instrumen investasi pun bisa menurun hanya karena ulang segelintir pihak yang jadi pengembang hanya dengan modal nekad,” ungkap Lamak. (PM/HH/Foto:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *