Monday, September 16News and Features

Masuki Ramadhan, Hal Ini Bisa Bikin Anda Boros

JAKARTA – Gerakan Non Tunai dari Bank Indonesia sudah jamak bagi warga ibukota dalam keseharian mereka. Para pengguna transportasi pribadi, kereta listrik, busway maupun penumpang taksi online pun mungkin sudah bertransaksi dengan uang elektronik ini. Nah, persoalan muncul ketika orang cenderung lebih mudah memutuskan untuk berbelanja dengan uang elektronik atau e-money dan itu bisa membuat seseorang jadi lebih boros, apalagi pada bulan puasa dimana banyak pengeluaran bisa terjadi.

Berdasarkan data statistik Bank Indonesia, jumlah uang elektronik yang sudah beredar hingga November 2017 mencapai 113 juta instrumen berjenis e-money ataupun e-wallet. Jumlah ini meningkat signifikan dari posisi awal 2017 yang hanya 52 juta instrumen uang elektronik. Jumlah itu mencakup 26 jenis uang elektronik yang dikeluarkan oleh 26 perusahaan penerbit berbeda.

Namun, penggunaan uang elektronik ini juga bisa mendatangkan pemborosan jika pemilik tidak tertib dalam bertransaksi. Apalagi banyak promo ritel yang menawarkan berbagai benefit jika bertransaksi dengan menggunakan uang elektronik. Ya bisa jadi orang akan tergiur akan promosi tersebut dan akhirnya membeli dengan uang elektronik. Bayangkan bila terlalu sering transaksi dengan uang elektronik itu dilakukan. Pengeluaran pun akan semakin boros.

Faktor psikologis memang sangat berperan dalam keputusan berbelanja dengan uang elektronik. Lantaran cara penggunaannya yang hanya ditempelkan saja sembari mengintip berapa saldo yang tersisa, acapkali orang lebih mudah berbelanja dengan ini ketimbang dengan uang tunai. Kalau uang tunai, pertimbangannya cukup lama, tidak demikian halnya dengan uang elektronik.

Padahal, bukanlah uang elektronik itu adalah konversi fisik dari uang tunai dengan nilai yang sama? (PM/DTK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *