Monday, September 16News and Features

Utamakan Pengalaman, Properti Tak Penting Bagi Milenial

JAKARTA – Consumer News and Business Channel (CNBC) Rabu (6/2/2017) merilis, Generasi Millenial memiliki tingkat pembelian rumah yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Kelompok milenial dikategorikan bagi mereka yang berusia di bawah 35 tahun. Pada usia ini, tingkat kepemilikan rumah terus menurun sejak awal tahun 2000an.

Menurut CNBC, hal ini disebabkan karena perbedaan prioritas bagi kaum milenial dimana, mayoritas kalangan usia ini lebih suka menghabiskan uangnya untuk melakukan travelling, ketimbang membeli rumah. Pengalaman bepergian ke tempat-tempat yang menarik dan tak pernah dikunjungi, lebih menarik ketimbang memiliki rumah atau properti.

Sebuah jajak pendapat yang digelar Evenbrite pada 2014, menunjukan bahwa 78% kaum milenial lebih memilih untuk mengeluarkan uang demi sebuah acara yang disukainya. 55% responden menyebutkan, hal tersebut akan memberikan mereka pengalaman berharga.

“Kaum milenial tidak menghabiskan uang untuk mobil, TV dan jam tangan. Mereka lebih memilih menyewa skuter dan city tour di Vietnam dan menari di sebuah festival musik atau mendaki Machu Picchu,” Kata CEO dan Founder Blueboard, Taylor Smith dikutip dari CNBC, Rabu (6/12/2017).

Dia juga menjelaskan anak muda masa kini sangat memprioritaskan kemewahan, seperti makan di restoran, ngopi di Starbucks sambil makan roti alpukat.

Selain itu, harga rumah juga turut mempengaruhi kaum milenial untuk memiliki hunian. Di seluruh negara, harga rumah terus meningkat, namun upah yang diterima tidak mengalami kenaikan.

Sebuah riset menyebutkan, meskipun sekitar 80% kaum milenial ingin membeli rumah, namun sangat sedikit yang memang memiliki kemampuan untuk membeli. Dari riset tersebut sekitar 68% milenial menjelaskan, mereka telah menabung kurang dari US$ 1.000 untuk uang muka, namun ada juga yang mengaku belum sama sekali mempersiapkan uang muka ini.

Mereka menilai biaya untuk memiliki rumah terlalu tinggi dan repot karena akan menghabiskan biaya untuk perawatan dan perabotan yang mahal. Kemudian, harga rumah yang mahal di kota atau tempat yang diinginkan, membuat kaum milenial lebih memilih membuang uang untuk travelling.

Smith menjelaskan, sebenarnya tidak ada yang bisa memastikan kaum milenial tidak dapat membeli hunian karena suka travelling. Namun generasi ini juga harus memahami, jika mereka juga harus mulai menabung untuk hunian di masa depan. (DTK/JL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *