Sunday, August 25News and Features

Kecerdasan Digital dan Social Capital

Oleh: Ken Sudarti, SE., MSiDosen FE Unissula Semarang

Lama tak bertemu, lalu kembali bertemu dengan teman lama di sosial media merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Mengenang masa lalu yang memorable membuat kita serasa di alam yang berbeda.

Namun pertemuan yang awalnya baik, bisa menjadi konflik pada akhirnya karena adanya posting-an yang tidak pantas atau menimbulkan ketidaknyamanan.

Mulai dari saling pamer, saling menyindir, saling debat sampai saling menghina. Hal ini tentu saja akan mencederai niat awal yaitu menjalin tali silaturahim.

Sebagai makhluk sosial, kita memang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan saling berkunjung dan saling menyapa. Perilaku ini merupakan ciri khas budaya Indonesia. Kokohnya budaya akan berdampak pada kokohnya modal sosial.

Modal sosial adalah suatu rangkaian proses hubungan antar manusia yang ditopang oleh jaringan, norma-norma dan kepercayaan yang memungkinkan koordinasi yang efektif dan efisien demi keuntungan bersama (Supriono, 2009).

Menurut Tesoriero (2008) modal sosial dapat dilihat sebagai perekat yang menyatukan masyarakat. Hal ini karena seseorang melakukan sesuatu terhadap sesamanya karena ada kewajiban sosial, timbal balik, solidaritas sosial dan komunitas.

Dalam banyak literatur, sudah terbukti bahwa modal sosial mempunyai peran penting dalam membangun daya saing atau keunggulan suatu masyarakat.

Saat ini telah terjadi pergeseran terhadap pembentukan modal sosial. Jika sebelumnya modal sosial dibangun melalui kegiatan interaksi fisik antaranggotanya, tetapi dengan berkembangnya internet, modal sosial juga dibentuk melalui interaksi di dunia maya. Kita sekarang telah menjadi “warga digital”.

Para ahli memprediksi bahwa 90% dari seluruh penduduk dunia akan terhubung ke internet dalam waktu 10 tahun. Dengan internet, dunia fisik dan digital akan tersambung.

Warga digital adalah orang yang sadar akan hal benar dan yang salah, menunjukkan kecerdasan perilaku teknologi, dan bisa membuat pilihan yang tepat saat menggunakan teknologi.

Warga digital merupakan individu yang memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun komunitas, bekerja dan berkreasi.

Secara umum, warga digital sudah memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi untuk berkomunikasi maupun untuk mengekspresikan sebuah ide. Sebagai warga digital kita harus memahami kewargaan digital. Kewargaan digital dapat didefinisikan sebagai norma perilaku yang tepat dan bertanggungjawab terkait dengan penggunaan teknologi.

Idealnya, seorang warga digital harus mempunyai kewargaan digital. Namun sayangnya, tidak semua warga digital memahami kewargaan digital. Mereka dengan mudahnya memposting informasi yang membuat tidak nyaman bagi warga digital yang lain.

Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka fungsi teknologi ini justru menjadi faktor penghancur dan bukan faktor pembangun modal sosial.

Jadi, untuk dapat memahani kewargaan digital, warga digital harus mempunyai kecerdasan digital, yaitu himpunan kemampuan sosial, emosional dan kognitif yang memungkinkan mereka menghadapi tantangan dan beradaptasi dengan tuntutan kehidupan digital.

Dari sekian banyak kecerdasan digital, kecerdasan emosional digital merupakan salah satunya, yaitu kemampuan untuk berempati dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain secara online.

Warga digital yang cerdas akan memilih kata yang tepat saat berkomunikasi, tidak menyinggung pihak lain, tidak memberikan informasi rahasia dan lain sebagainya.

Oleh karena itu ada 4 pertanyaan pokok yang harus terjawab sebelum berkomunikasi di dunia maya, yaitu: 1) Apakah postingan saya benar? Ataukah hanya isu?, 2). Apakah postingan saya akan menyakiti hati orang lain?, 3) Apakah postingan saya legal? 4). Apakah postingan saya penting?.

Melalui kecerdasan emosional digital ini, diharapkan setiap warga digital dapat menempatkan diri sesuai dengan porsinya.

Artinya mampu menjawab 4 pertanyaan pokok seperti tersebut di atas,karena sejatinya, seorang warga digital yang baik adalah yang memahami hak digital, yaitu kemampuan untuk memahami dan menjunjung tinggi hak-hak pribadi dan hukum, termasuk hak privasi, kekayaan intelektual, kebebasan berbicara dan perlindungan dari ujaran kebencian.

Akhirnya peran semua pihak diperlukan untuk mengedukasi warga digital tentang pentingnya kecerdasan digital ini.

Pemerintah sendiri diharapkan mampu melaksanakan dan mengontrol penerapan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Jika ini dapat diwujudkan maka modal sosial akan semakin kokoh. Semoga! (Sumber: http://jateng.tribunnews.com/2017/07/07/kecerdasan-digital-dan-social-capital)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *