Sunday, August 25News and Features

Indra W. Antono Bekerja dengan Cinta

JAKARTA – Lima huruf ini menjadi kunci kesuksesan dari sosok ini. Lantaran ia menjadikan Cinta sebagai filosofi kehidupannya, sejumlah kesuksesan pun ia torehkan. Demikianlah adanya, Indra Widjaja Antono, Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land.

Sosoknya kalem, tidak banyak berbicara namun jangan tanya bagaimana ketajamannya ‘melihat’ sesuatu yang banyak dilewatkan orang. Tidak hanya dalam urusan komunikasi sosial, tetapi juga dalam merespon indikasi-indikasi bisnis yang tidak banyak diperhatikan orang lain.

Pria yang memulai karirnya dibidang properti dari jenjang paling bawah ini, suatu kali pernah berkisah tentang bagaimana hingga akhirnya Agung Podomoro melahirkan sebuah tagline ‘Back to The City’ yang menjadi tonggak bagi pasar properti di Indonesia. 2004-2005, ketika semua pengembang masih berbicara tentang rumah tapak, pengembang ini justru gencar mengampanyekan konsep tersebut dengan solusi hunian dalam bentuk apartemen.

“Simpel aja sih, saya ajak beberapa ibu-ibu datang ke sebuah rumah besar dan mewah, yang kamar mandinya saja bisa sampai 6-7 unit. Nah setelah lihat-lihat mereka komentar dan saya amati. Setelah itu mereka saya ajak ke sebuah unit apartemen 2 kamar, mereka lihat-lihat lalu komentar, dan apa saja yang mereka komentari itu yang jadi bahan kajian kami untuk menentukan fokus kami ketika itu,” kisahnya.

Meski kini duduk sebagai salah satu dari jajaran orang nomor dua di perusahaan pengembang papan atas ini, namun jika ditanya, apa sesungguhnya cita-citanya dahulu? Mimpi kecil yang masih terjaga hingga sekarang adalah ia ingin menjadi pilot.

“Saya selalu konsisten dalam setiap kesempatan mengatakan saya ingin jadi pilot. Mungkin saya paling norak kalau ke bandara. Saya selalu datang ke bandara 2-3 jam sebelum terbang untuk merasakan suasana bandara, termasuk di bandara kecil sekali pun,” ujarnya bercerita.

Pada 1987, ia mengaku terbentur regulasi yang membuyarkan mimpinya untuk menjadi pilot. “Saya tidak pernah memimpikan sekolah tinggi, tapi bagaimana bisa membantu orangtua saya dalam keadaan ekonomi kami yang sangat sulit ketika itu. Sekolah pilot kan hanya satu tahun setelah itu langsung terbang.”

Selain menjadi pilot, Indra ketika muda merupakan seorang atlet bulu tangkis, seangkatan dengan Ardy Wiranata.

“Saya ketika itu hanya bermain di sirkuit daerah. Saya dilarang menekuni bulu tangkis oleh ayah saya karena ketika itu dianggap menjadi atlet tidak memiliki prospek bagus dan jaminan di hari tua,” kisahnya.

Tidak sengaja
Perkenalannya dengan dunia properti pun menurutnya terjadi secara tidak sengaja. Indra muda dibesarkan di lingkungan pasar di Kebayoran Lama karena orangtuanya ialah pedagang kelontong kecil.

“Sambil membantu orangtua, saya membantu pemilik kios di pasar itu untuk memasarkan kiosnya. Saya dulu hanya membantu membukakan pintu kiosnya. Saya dulu belum paham properti, tapi secara tidak langsung saya sudah sebagai marketing ketika itu.”

Gagal menjadi pilot dan atlet bulu tangkis diakuinya sempat membuatnya terpuruk. Namun, karena cintanya kepada orangtua, ia memulai karier profesionalnya di dunia properti di perusahaan brokerage properti, Era Indonesia.

“Saya bekerja di sana sambil belajar. Saya belajar planologi di bidang realestat program. Selama 2-3 tahun saya bekerja di sana dan merasakan panas, dingin, dicerca dan dimaki orang. Itu sudah saya alami.”

Selanjutnya, pada 1993-2001, ia bergabung dengan salah satu pengembang, Jakarta Baru Cosmopolitan Gading Serpong. Baru sejak 2001 sampai saat ini ia berkarier di Agung Podomoro Group.

“Jadi, saya baru bekerja di tiga perusahaan. Agak setia juga dengan pekerjaan,” ujarnya sambil tertawa.

Karier propertinya dimulai dari nol, mulai marketing sampai menjadi manajer di Jakarta Baru Cosmopolitan.

“Kemudian saya gabung di Sunter Agung anak usaha Agung Podomoro Group, mulai menjadi general manager mengelola manajemen perusahaan dari 2001-2003 untuk membuat suatu standar mutu. Di 2003 Agung Podomoro propertinya menggeliat, dan saya dipercaya menjadi asisten direktur saat itu membantu speed up proyek-proyek Agung Podomoro.”

Pencapaian yang diraihnya tidak terlepas dari banyaknya kerikil yang menghadang. Namun, ia mengerjakannya dengan rasa cinta yang bisa membuatnya bertahan.

“Pada 2004 saya menjadi marketing director di grup dan usia saya baru 32 tahun. Saya sempat ragu apakah tidak salah anak muda diberi kepercayaan di posisi itu?”

Posisi tersebut bukan berarti dilalui tanpa ganjalan. Ganjalan senioritas di kantor ketika itu cukup terasa. “Sebenarnya posisi itu kosong karena ditinggal orangnya yang melanjutkan studi di luar negeri. Ada dua sampai tiga orang yang diseleksi dan akhirnya saya yang dipilih. Saya ingat pesan dari top management. Katanya ketika itu ‘Anda injak gas, Saya injak rem’. Akhirnya saya melihat itu sebagai sebuah kesempatan.”

Gemba kaizen
Indra belajar menjadi direktur yang baik dengan membuat sistem untuk mengembangkan karyawan. Ia menganut prinsip gemba kaizen atau continuous improvement.

“Tidak setiap waktu saya memimpin. Kadang saya duduk di samping ketika rapat dan GM senior yang memimpin. Sebagaimana konser jaz, saya berikan kesempatan mereka berimprovisasi sesuai dengan kemampuan untuk memainkan sebuah lagu dalam harmonisasi yang sama,” urainya.

Sudah banyak hambatan dalam berkarier yang dihadapinya, termasuk ketika harus bekerja tujuh hari dan hanya dibayar dua hari ketika masa krisis moneter. Ia pun pernah merasakan mengurus gudang serta menata arsip karena keterbatasan SDM. “Saya tidak pernah mengeluh dan selalu saya lakukan hal yang baru,” tambahnya.

Dalam bisnis, konsistensi, disiplin, dan komitmen akan membentuk profesionalisme yang baik dan itu yang membentuk reputasi Agung Podomoro hingga saat ini. Ganjalan kasus reklamasi tidak memengaruhi bisnis secara keseluruhan. “Kita selalu terbuka kepada konsumen termasuk bila ada keterlambatan pembangunan tanpa membebankan biaya tambahan apa pun kepada mereka.”

Selain membangun proyek-proyek menengah ke atas, Agung Podomoro Land juga tidak melupakan sektor properti untuk menengah ke bawah. “Untuk MBR kita ada apartemen Gading Nias dan Kalibata City. Selain itu, juga sedang dibangun 37 ribu unit rusunami untuk MBR di Cimanggis dengan harga sekitar Rp200 jutaan sehingga total sekitar 50 ribu unit untuk MBR yang sudah kita bangun.”

Agung Podomoro Land menurutnya juga berkomitmen membantu pemerintah mengurangi <>back log perumahan dan membantu menyukseskan program Satu Juta Rumah.

Impian dan keluarga
Meskipun gagal menjadi pilot, ia tidak pernah mengubur impian masa kecilnya. Kini ia mengoleksi ratusan miniatur pesawat terbang, sebagian diletakkan di ruang kerjanya.”Di ruang kerja saya tidak ada gambar desain proyek. Isinya miniatur pesawat. Sebagian ada di rumah saya.”

Di tengah-tengah kesibukannya menjalankan bisnis properti, ia menyempatkan waktu untuk bercengekrama dengan keluarganya meskipun hanya sebentar.

“Bagi saya, kualitas waktu bersama keluarga lebih utama daripada kuantitas. Ketika saya punya waktu 2 jam untuk anak saya, saya benar-benar bermain dengan putri kecil saya. Saya jauhkan gadget saya karena tidak ingin diganggu. Begitu pun ketika saya ada waktu dengan orangtua saya meskipun sebentar saya manfaatkan dengan baik.”

Waktu luang digunakannya untuk mengenalkan putrinya dengan sejarah dan budaya. Ia lebih senang membawa putrinya ke museum ataupun taman bermain, seperti kebun binatang.

“Saya biarkan ia bermain di museum, seperti museum layang-layang dan museum gajah. Banyak museum bagus di Jakarta yang kurang dilirik masyarakat.”(MI/JL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *